Info Menarik

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Posted on: 11 Desember 2008

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun sedangkan aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ” Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar — ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari: “I cried for my brother six times.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kumpulan Info Menarik di Facebook

Info Menarik di FacebookJadi fans kumpulan info menarik di Facebook

Anda pun dapat berlangganan informasi menarik secara gratis yang dikirim via e-mail. Untuk berlangganan info menarik terbaru, silahkan klik link di bawah ini:
» Berlangganan Gratis Info Menarik via E-mail
Berlangganan Info Menarik Secara Gratis

RSS Kumpulan Info – Kesehatan, Kuliner, Wisata, Kecantikan, Fashion, Griya, Keluarga, Teknologi

  • Cat Ulang Dinding Rumah Anda 12 Maret 2014
    Ingin mengganti suasana rumah? Salah satu caranya adalah dengan melakukan cat ulang dinding rumah. Langkah untuk mencat ulang tidak sekedar langsung memoles cat pada dinding rumah. Ada beberapa langkah agar cat menempel dengan baik dan menghasilkan tampilan yang sempurna. Selengkapnya dapat Anda baca pada artikel berikut: Cat Ulang Dinding Rumah Anda.
  • Mengatasi Kejang Demam 26 Februari 2014
    Pada saat anak sakit, pikiran kuatir menjadi hal yang akan dialami oleh orang tua. Apalagi jika suhu anak meninggi dan demam, terlebih jika demam disertai dengan kejang-kejang. Demam kejang biasa terjadi pada sebagian anak. Sekitar 5% anak dari usia 6 bulan sampai 6 tahun mengalami hal ini, terutama jika orangtua memiliki riwayat kejang demam serupa sewaktu […]
  • Atasi Kerugian Bekerja di Rumah 14 Februari 2014
    Bekerja di rumah. Mengapa tidak? Banyak waktu yang dapat dihemat dengan bekerja di rumah. Keluhan "tua di jalan" sering didengar karena harus mengalami berjam-jam berada di jalan akibat macet. Dalam kondisi normal, rata-rata sebanyak 3-4 jam sehari dihabiskan di jalan untuk menuju ke kantor atau pulang dari kantor. Belum lagi kalau ada banjir, demo […]
  • Cegah Keriput Sekarang Juga 5 Februari 2014
    Penuaan tidak dapat dihindari seiring berjalannya waktu. Salah satu efek dari penuaan adalah kerutan pada wajah. Kerutan pada wajah dapat menurunkan rasa percaya diri karena penampilan yang tidak menarik. Kerutan mungkin tidak bisa dihindari sama sekali, tetapi mencegah agar tidak timbul kerutan dini wajib dilakukan. Selengkapnya dapat Anda baca pada artikel […]
  • Cara Memandikan Bayi 24 Januari 2014
    Bagi ibu baru, memandikan bayi merupakan tantangan tersendiri. Kepala bayi yang belum tegak, tubuh bayi yang mungil, serta belum adanya pengalaman merupakan kendala-kendala yang biasa dihadapi. Jangan menyerah atau ragu, karena memandikan bayi merupakan salah satu cara menjaga kesehatan bayi. Prosedur yang benar dan apa saja yang diperlukan untuk memandikan […]
  • Wisata Edukasi Godong Ijo, Liburan Keluarga Mendidik dan Menyenangkan 10 Januari 2014
    Ingin berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga dengan cara yang asyik dan mendidik? Anda harus datang ke tempat wisata yang satu ini, "Wisata Edukasi Godong Ijo" yang terletak di Jalan Raya Cinangka No. 60 Km.10, Desa Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat. Selengkapnya dapat Anda baca pada artikel berikut: Wisata Edukasi Godong Ijo, Liburan Keluar […]
  • Membuat Ruang Kerja di Rumah 8 Januari 2014
    Bekerja tanpa harus mengalami macet atau tidak perlu pergi pagi dan pulang malam adalah impian dari para pekerja. Hal ini bisa direalisasikan dengan membuat tempat bekerja di rumah. Hal pertama untuk mendukung Anda bekerja secara maksimal di rumah adalah dengan membuat desain ruang kerja secara tepat. Selengkapnya dapat Anda baca pada artikel berikut: Membua […]
  • Jajanan Khas Bandung yang Nikmat 2 Januari 2014
    Selain memiliki pemandangan dan udara yang yang masih sejuk, kota Bandung menjadi tujuan wisata karena memiliki keanekaragaman kuliner yang menarik untuk dicoba. Salah satu kuliner yang layak dicoba di kota kembang ini adalah jenis makanan ringan khas yang terkenal dari kota ini. Yuk, intip jajanan terkenal yang merupakan ciri khas dari wisata kuliner di kot […]
  • Mandi Air Panas di Ciater 1 Januari 2014
    Ciater sudah terkenal sejak lama sebagai tempat pemandian air panas alami. Terletak dekat dengan kota Bandung, tepatnya di dataran tinggi Kabupaten Subang, Jawa Barat. Terletak tidak jauh dari Tangkuban Perahu, lokasi wisata yang disebut Sari Ater ini menyediakan berbagai fasilitas menarik ini layak untuk dikunjungi bersama keluarga. Selengkapnya dapat Anda […]
  • Candi Prambanan 13 Desember 2013
    Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Asia Tenggara berdiri megah di Jawa Tengah, tidak jauh dari Yogyakarta. Letak Candi Prambanan juga tidak terlalu jauh dengan Candi Borobudur yang merupakan candi Budha terbesar dan paling terkenal di dunia. Seperti Borobudur, Candi Prambanan juga termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Selengkapnya dapa […]
  • Cara Memilih dan Merawat Pisau 9 Desember 2013
    Salah satu alat masak yang pasti ada di dapur rumah Anda dan paling sering dipakai adalah pisau. Pemilihan pisau yang tepat akan membantu proses pemotongan makanan menjadi sempurna. Selain itu, diperlukan perawatan yang tepat agar pisau tetap awet dan tidak rusak. Selengkapnya dapat Anda baca pada artikel berikut: Cara Memilih dan Merawat Pisau.
  • Wisata Menarik di Yogyakarta 6 Desember 2013
    Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota pelajar. Yogyakarta merupakan kota yang masih terasa kental kebudayaannya. Jika Anda senang dengan wisata budaya, mengunjungi Yogyakarta merupakan pilihan tepat karena ada berbagai situs kebudayaan yang menarik untuk didatangi. Selengkapnya dapat Anda baca pada artikel berikut: Wisata Menarik di Yogyakarta.

Laman

Blog Stats

  • 16,812 hits
%d blogger menyukai ini: